8 KEBOHONGAN seorang IBU

January 22nd, 2007 by mywishlife

Berikut sebagian keciiiiil dari kebohongan seorang ibu; disadur dari milis tetangga. Semmoga ada manfaatnya bagi kita.

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibu tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu !”

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan teman kita, kita pasti lebih peduli dengan teman kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar teman kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

RINDU SEORANG IBU

January 5th, 2007 by mywishlife

Ibu1 Ia tersenyum. Sebongkah kenangan hadir di pelupuk mata. Tawa riang seorang gadis kecil, isak tangis sang buah hati, dan kemanjaannya yang menggemaskan. Curahan kasihnya yang melimpah, telah membentuk anak kesayangannya itu menjadi gadis manja yang cerdas namun keras kepala.

Terbayang saat hujan deras mengguyur bumi, ia berjalan sekian kilo untuk menjemput sang buah hati dari sekolahnya. Jalanan licin tak beraspal, bukan halangannya untuk membawakan sebuah payung untuk si putri kesayangan. Dan ketika sang buah hati datang dengan sebuah senyum dan ciuman di tangan, alangkah bahagia hatinya, terbanglah seketika segala penat yang sempat meraja di tubuhnya yang letih.

Dan ia masih tersenyum, meski ketika hari demi hari, sang buah hati ternyata semakin manja. Ia tetap selalu rindu memandang wajah putri tercinta, meski di wajah itu tercoret garis cemberut, meski kata-kata ketus kerap terlontar dari mulut sang buah hati. Ia tahu, buah hatinya tak pendai menyimpan rasa seperti dirinya, hingga segala apa yang dirasa di dalam hati sang putri, begitu pulalah yang terlukis di wajahnya.

Ia pun rindu, ketika gadis kecilnya pulang membawa setumpuk kelereng, atau membawa sekantung karet gelang. Ia tahu, putri kesayangannya main apa saja, dengan siapa saja. Dia tetap menyimpan rindu, ketika memarahi gadis kecilnya yang setiap hari main kelereng, main laying-layang, main kejar-kejaran, main pukul-pukulan bahkan dengan anak laki-laki tetangganya, atau dengan anak laki-laki sepupu-sepupunya. Anak perempuan ko kasar mainnya sih neng? yang lembut atuh geulis? begitu selalu nasihatnya.

Ah? bidadari kecilnya itu tak seperti anak kebanyakan, ia terlalu aktif. Ia selalu ingin tahu, ia selalu ingin mencoba. Terbayang bagaimana gesitnya gadis kecil kesayangannya itu memanjat pohon. Teringat bagaimana saat gadis kecil itu masih dalam kandungannya, suaminya tercinta begitu mendambakan anak itu lahir laki-laki. Dan ternyata anak itu perempuan. Anak perempuan yang tidak suka bermain boneka, anak perempuan yang tidak berwatak perempuan, anak perempuan yang sama sekali tidak lembut, tidak gemulai, tidak penurut seperti seharusnya. Dan ia tetap rindu anak perempuannya itu, gadis kecil manja dan keras kepala, yang menjadi kesayangannya.

Gadis itu kini telah dewasa. Ia tak lagi senang bermain kelereng, tak lagi bermain dengan anak laki-laki, tak lagi senang memanjat pohon. Tetapi bidadari kecilnya itu, tak lagi dimilikinya. Gadis itu jauh dari sisinya. Anak manja kesayangannya, tak bisa ia pandangi wajahnya setiap hari. Bahkan cemberut dan pembangkangannya yang sering membuatnya jengkel pun, kali ini menjelma menjadi kenangan yang begitu indah.

Ia rindu semuanya. Bahkan jika si putri manja itu datang sambil cemberut atau menangis pun, ia tetap rindu.

Justru? saat sang buah hati menyadari kerinduannya, ia tak bisa menikmatinya. Sang Pemilik Jiwa telah memanggilnya ?pulang?. Sang buat hati, pulang membawa setumpuk penyesalan.

Dan betapa saat ini, setelah sekian tahun, rasa kehilangan itu tak sedikit pun berkurang. Ia tahu, arti rindu itu?

***

Ciumlah tangannya, selagi kau masih bisa menyalaminya

Pulanglah padanya, selagi kau masih bisa menjumpainya

Tersenyumlah padanya, selagi matanya yang sarat kasih masih bisa memandang wajahmu

Dan ungkapkanlah cintamu, selagi ia masih ada.

Pulanglah?. Sebelum kesempatan itu hilang.

***

Innalillahi wainna ilaihi roojiuun…EKA CAHYA BARUNA

December 26th, 2006 by mywishlife

Innalillahi wainna ilaihi
roojiuun…EKA CAHYA BARUNA

Al-qur’an. : Al-mu’minun:
115 “ Maka apakah kamu mengira bahwa
sesungguhnya KAMI menciptakan kamu secara man-main? Dan kamu tidak dikembalikan
kepada kami? Maha Tinggi Alloh Raja Yang Sebenarnya”

Masya Alloh.. ini merupakan
kehendak Alloh …

 “he passed away that very soon” masya Allloh…

Gerakan mouse
di mejaku tiba-tiba terhenti, terus dan terus…. mata ini mencoba meyakinkan
kata-kata yang kubaca… tulisan itu tidak berubah .. namun hati dan tubuh ini
menjadi lemas .. ketika membaca message dari ANDI ini , mengenai kabar EKA CB.
Ya Eka CB.

Tak terasa, sedikit nanar mataku
, kucoba letakkan kacamata ku, mengusap sisi-sisi mata ku..

“ya Alloh… Inna lillahi wainna ilaihi rojiun, semoga
keberkahan atasnya, hidup dan matinya“…

teringat
dengan jelas, ketika masa-masa Di MACHE (SMUN 5 yogyakarta) . teringat dia EKA CB, saat hari pertama masuk
sekolah , pembagian kelas … berbaris dilapangan depan.. satu baris dengan dia,
ya dia juga temennya ANDI POEL di smp 8 dulu. Eka CB yang low profile banget
orangnnya, walau dia sering bercanda untuk sedikit ‘menyombongkan diri’ ketika di kelas 1 D atau didepan kelas ,
teteplah dia sosok yang low profle banget… EKA dengan tas hijaunnya yang
tipis… dan dan dandannnya yang
sederhana, dengan sepatu hitamnya yang tinggi dan sederhana… semuanya serba sederhana
.. yah dia sosok yang SEDERHANA.

teringat ketika kelas kosong
teman2 bermain2 di depan kelas menggoda ELISABET ORIZA kelas lain , EKA dengan
senyumnnya yang khas selalu disandang di bibirnnya, dia tetap membuka dan
menekuni buku pelajarnnya, buku yang sering dibuka tuh buku FISIKA dan buku
MATEMATIKA..

hingga sering bergumam dalam hati
ini dibuatnnya.. “EKA kamu anak yang baik banget…”

lain lagi..
ketika saat kelas kosong… kita saling mengingatkan untuk bareng2 sholat
dhuha di Aula SMUN 5.. dulu aula sekaligus secretariat ROHIS kita..…

eh lain lagi… saat aktivitas ROHIS berjalan.. hehhehe..
masya Alloh banget tuh… jadi inget semuannya… EKA CB pas waktu itu jadi anak
buah ku dia kebagian di divisi GESER(Gerakan Seratusan), klo gak salah… aku
jadi anak buahnya NANANG ESC(‘ESCAPE’…
hehehe…) , dengan VIKRAMA ANINDITA (‘Vikramsingh’) trus M.AMIEN RAIS (Amien ketua
PMR -UKS) dan lain…yang waktu itu jadi koordinator divisi dirohis…..

EKA CB dia
termasuk bawahan yang rajin ngambilin dan ngiderin infaq GESER
dikumpulin di masjid.. trus klo gak salah dikasihin ke sekretarisku namanya
lupa dan dipegang oleh WISNU brilliant J .  

Waktu di TONTI (Pleton Inti/
pasukan baris-berbaris tuh..) dia temen yang baik juga, diasering berbagi
minuman disaat temen2 kehausan diterik matahari siang bolong ….

Iya EKA CB tuh.. sering dibarisan
nomor tiga dari depan , namun ketika sesekali di nomor dua, dia dengan gembira
berucap ‘” hehe.. aku neng nomor loro le..” , sedang aku di nomor sepuluh ….. buncit …. Hehehe.. memang perwakan kita beda jauh sih.. EKA memang tegap
tinggi berisi bodynya
.tapi jangan salah dia tetep low profile dengan selalu
mengusap-usap rambutnya yang belah tengah agak kepinggir, dan membasahi
bibirnya yang merah jambu
.. hehhehe.. aku jadi pengamat ya… iya soalnya di
low profile banget jadi saya kagum dengan dia…. pernah beberapakali aku guyon
dengan dia…. “eh KA’ kok namamu pake BARUNA ? artinya lautkan?

Emang pengen jadi tentara
angkatan laut ya? “ ..dia Cuma menjawab simple dengan senyumnnya yang khas
“ hehehe … iya..”…

Kita semakin
hitam, juga tetep tersenyum…. EKA yangs
seriing mengusap-usap lengan tangannya dan rambutnya…. Ketika kepanasan saat
bermain basket…

Khas juga datang dari lay-up nya
yang sederhana… dengan tangannya yang mengayun khas pada bola mendekati ring
basket…lain dengan aku yang selalu pake Sky hawk yang jarang masuk.. beda juga dengan MBAH KROMO yang jadi
suhunya.

Pernah juga
dalam suatu kekalahan dia tetap bangga dan bahagia , jadi team basket kelas
walau kita dalam kekalahan telak dia mengajarkanku untuk tetap bangga tercermin
dengan senyumnnya dan cerita-ceritanya dengan lawan….

 Kebanggaan kita juga ketika kita bersama-sama menjadi panitia ODT
, EKA tampil menjadi seorang kakak kelas yang tetap low profile .. gak kayak
yang lainnya terutama aku. Hahaha… biasa ketika yang lain kena SYNDROME virus
Pasang tampang…. EKA tetep menjadi dirinya yang sederhana dan low profile..

  Itu sebgian kecil
kebahagiaan ku berbagi dengan EKA CAHYA BARUNA .

walau itu semua sudah berlalu
selama lebih dari 10 tahun .. 10 TAHUN LHO .bro… ( itung aja dari 1997
kita kelas satu SMU, sampe sekarang… gak nyangka ya.. hehehe…. teteplah itu suatu kenangan …. Yah kenangan…. Tetaplah
…jemari ku dengan lancar mampu menuliskan pada tuts keyboard ini dengan lancar…
dan tetaplah uraian dan lukisan dalam relung hati ku terhadap EKA tetap
cerah,terang dan jelas sejelas kejadian
yang baru terjadi…

Dedicated to : EKA CAHYA BARUNA (yang sudah mendahului kami), temen2 MACHE ’99

CINTA LAKI-LAKI BIASA

December 15th, 2006 by mywishlife

  Menjelang
hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau
menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari
yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan
semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama
herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di
kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore
di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu
matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk
merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi
kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun
yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?
menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan
laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang
pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu
saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan
keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan
hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga
membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga,
dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka
serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka
yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar
sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti
tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang
duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama
mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh
wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi
jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat
bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu
bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan
panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania
lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang
mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga
biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan
dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi
manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan
masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana
harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa
membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga
umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat
dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan,
tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang
membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu
adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan
Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti
Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak,
satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja
lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu
sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata
lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu
bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan
Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar,
anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia.
Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik
tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan
Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia
hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang
ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania,
atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan
kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat
sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan
segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya
sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur.
Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan
melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima
menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah
bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan
harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan
Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak
bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas.
Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi
ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap
nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman
tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri
lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa
menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania
merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat
yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan
entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi
kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan
orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas
cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian
bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya
hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat
perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan
antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah.
Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan
izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang
terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang
setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam
tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan
Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan
tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian
dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang
lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat
bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang
lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin
kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta
gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur
terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan
syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania
selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu
mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah
pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong
Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu,
memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski
seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik
dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan
tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya
bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya
di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania.
Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania
harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama,
selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba,
lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke
sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang
bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan
teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga
mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah
bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik,
barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah
bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain
basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak
melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar
yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri.
Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi
sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

——————
diambil dari dudung.net
Wah2 suasana hatiku mulai tumbuh lagi virus2 seperti ini…
gak tau mau bilang apa..gak tau harus berkata apa..
hanya
dalam hati terkadang mancoba mangais2 butiran asa dari dzikir2
indahnnya mengingat -Mu. sekedar melarungi asa yang tak kunjung tiba..
ikhtiar
dalam hal ini.. sudah.. namun terjebak dalam idealisme2 jiwa yang
terkadang terpikir tak memiliki landasan yang kuat .. hanya rasa2
manusiawi yang dikembangkan, ditumbuhkan, hingga dipupuk sedemikian
dalam..
tuhan tunjukkan hamba kemana harusmelangkah dalam hal ini…

hati2 atheis masuk TK

December 8th, 2006 by mywishlife

Komunistk_2Wah, komunis dah mulai bergerilya, hati2 yang
anaknya mo masuk TK…………….!!??

Hari pertama nan indah di sebuah TK Mawar Merah yang diasuh oleh seorang Ibu
guru Lisa yang berjiwa Komunis.

Ibu Guru ini mulai memasuki kelas Nol2 - Dan Ia mulai mengajar kepada anak2 TK
tersebut
tentang Faham Atheisme (Faham Tidak Bertuhan).

Ia mulai mengambil sebuah penghapus papan tulis, dan mulai berkata pada anak2
TK di kelasnya itu:
” Anak-anak penghapusan papan tulis ini kelihatan gak???”, sambil tangannya
mengacung-acungkan hapusan di depan kelas…

“KELIHATAAAAAN !!!”, kata anak2 TK serempak dan bersemangat.

Tkkomunis_1


“Yang terlihat menunjukan Keber-ada-an maka, Kalau penghapus ini kelihatan
artinya penghapus ini ada nggaaak?”, tanyanya lagi kepada murid-muridnya:

”ADAAAAAAAA!!”, kata anak2 itu penuh semangat.

Kemudian ia mulai menaruh penghapus papan tulis di meja. Ia lalu mengambil
sebuah kapur putih.
Kemudian berkata kembali pada murid-muridnya:

”Anak-anak KAPUR ini kelihatan nggaak???”, sambil tangannya kembali
mengacungkan kapur di depan kelas.

“KELIHATAAAAAN !!!”, kata anak2 TK serempak dan bersemangat.

“Nah !! Kalau kapur ini terlihat berarti kapur ini ada…nggak?”, tanyanya lagi
kepada murid - muridnya.

“ADAAAAAAAA!!”, kata anak2 semangat tanpa tedeng aling2.

Lalu sang guru mulai memasukan doktrin2 komunismenya kepada anak-anak TK
tersebut.

”ANAK-ANAK ! TUHAN ITU KELIHATAN…..NGGAK????” Tanyanya lebih semangat kepada
anak-anak muridnya.

“GAAAAAK!!”, teriak anak2 murid langsung dengan polosnya.

“BERARTI TUHAN ITU. ADA GAAAAAAK????” tanya Ibu Guru lagi bersemangat.

“NGGAK ADAAAAAAAA!!”, kata anak2 bersemangat tanpa mikir panjang.

Dipojok belakang kelas tiba2 berdiri Kipli anak murid yang paling badung dan
termasuk yang paling nakal..

Lalu ia mulai berjalan dengan gagah dan sok tahu ke depan kelas.

Kemudian dia berkata lantang didepan kelas:

”KAWAN-KAWAN OTAK IBU KELIATAN..NGGAAK???” tanyanya pada teman-temannya
sekelas.
“NGGAAAAAK!!”. teriak teman-teman-nya sekelas langsung dengan suara yang paling
keras dari yang tadi.

Kemudian ia bertanya lagi:
“BERARTI OTAK IBU GURU ADA NGGAAAAAAK??? ”

“NGGAK ADAAAAAAAA!!”, jawab teman-temannya.

sumber :
Kiriman teman di Milis
postingan  SIMBAH (www.mbah-marijan.org)

AIRMATA RASULULLAH

December 8th, 2006 by mywishlife

AIRMATA RASULULLAH
         Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah
yang membalikkan badan dan menutup pintu.

     Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah
itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

     Lalu, Rasulullah menatap puterinya
itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi
bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di
dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan
ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

        Kemudian dipanggilah Jibril yang
sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih
Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di
hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

         Semua syurga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

         "Engkau tidak senang mendengar
khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja,
kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

        Detik-detik semakin dekat, saatnya
Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril,
betapa sakit sakaratul maut ini."

        Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan
Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan
wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit
yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan
Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

        Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis
shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah
yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku,
umatku"

        Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa
cintanya Rasulullah kepada kita.

JUNGLISH (JUNGLE ENGLISH)

December 8th, 2006 by mywishlife

JUNGLISH (JUNGLE ENGLISH)

What is Junglish? Jungle English..like one mentioned below:

Javelish.. The typical Javanese language: ‘lho’, ‘lha’, ‘tho’, ‘kok’, ‘ki’,
etc
-Lho, I already bought that book !
-Kok, buying again ?
-I told you many times ‘tho’ !
-Lha, I didn’t know … how ki !?
-Don’t be like that, no….!?

Jakartenglish ? Jakarte English is marked by the ’sih’, ‘deh’,
‘dong’,'nih’ ,etc
-That book is very good, deh.
-Can you speak english?.. yeah a little sih I can!
-Use my money first nih..
-Give me more dong..
-How sih? Little little angry..

Surobenglish is marked by ‘tah’ and the famous word is ‘diancuk’
-"No fuc***g good" … is pronounced by arek Suroboyo using "No
diancuk
good"!
-Do you feel sick, tah ?

Other exclamation words of Java : ‘wo_’, ‘wah’, ‘w?’, ‘jian’, and ‘j?’

-W? lha this book is mine j?..!
-Wo_, only like that tho!
-Wah, expensive, tho?
-Jian, Paijem is so beautiful tenan.

Sundanglish is also available such as ‘atuh’, ‘euy’, ‘mah’
-Well, if that kind,it pretty so-so atuh
-It can’t be that way euy..
-I am mah, not like that… anything else

There are also abundant ’sound effect’ in Javanesse language.
-Suddenly, mak bedhengus den Tukiman appeared
-My head feels pain, mak cleng!
-Mak tlepok, I got a manggo
-My chicken is suddenly died, mak cekengkeng
-Mak gedebug, Kampret?fell down.
-Mak jegagik…. Oh, trondholo !

aa’ Berbagi Cinta

December 7th, 2006 by mywishlife

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi
dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material
lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang
telah mengglobal.
Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan
kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi
pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.
Myloveheart

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke
berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya
dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan.
Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan
atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu
dengan seorang bocah bernama Nina. “Nina, apa yang anakku mau sayang”
begitu ayah saya membuka percakapan. “Nina mau baju baru?, sepatu
baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya. “Nggak ah… ntar om
marah” jawab Nina. “nggak sayang, om tidak akan marah” ayah saya
menimpali. “Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang
mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia
dekati lagi Nina sambil berkata, “ayo nak katakan apa yang kamu minta
sayang” “Tapi janji ya om tidak marah” jawab Nina manja. “Om janji
tidak akan marah sayang” tegas ayah saya. “Bener om tidak akan marah”
sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia
setuju untuk tidak marah Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara
ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. “Seberapa
mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa
saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya
mengatakan “ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.”

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; “bener ya om
tidak marah.” Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah
berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya “om, boleh nggak
saya memanggil ayah” Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya
membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan ” tentu
anakku.. tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan
om” Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata “terima
kasih ayah… terima kasih ayah…
Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia
habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan
Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material
kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina “anakku,
sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa
yang kamu minta nak?” “Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah”
sergah Nina.

“Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda,
otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.” Sambil memegang tangan
ayah saya, Nina memohon “nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya
minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?”

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di
depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; “buat apa foto itu
nak?” Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen
Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak
Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah
dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan
kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu
lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah
cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar
orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Jamil Azzaini adalah Inspirator Sukses-Mulia dan penulis buku Best
Seller Kubik Leadership; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan
Hidup.

Sumber Milis> dan silahakn kunjungi : http://mbah-marijan.org/2006/12/06/berbagi-cinta-love-poligami/

serasa Dunia Tanpa Koma….tul?

November 22nd, 2006 by mywishlife

    Meminjam judul dari sinetron salah satu tv swasta …."Dunia tanpa koma".. untuk mengungkapakan sisi kehidupan yang lain….. dari sisi perspektif asa dan cita…

serasa dunia penuh dengan masah .. penuh dengan hal yang menghancurkan ketika mendapatkan maslah saat cita dan asa tidak dapat terpenuhi seketika pada saat yang di perlukan pada saat dimana dibutuhkan…

Ups… cita2,
asa bagi seorang manusia adalah suatu yang fitrah yang mesti dimiliki dan terus
dibangun dan di manage sesuai dengan kebutuhan yang di perlukan.(tergantung
lagi perspektif pribadi dalam memanagenya).

Manusia
jika hidupa tanpa asa dan cita2 ..patut dipertanyakan eksistensi untuk
survivenya.. fitrawi manusia secara hakiki telah ditetapkan cita2 tertingginya
adalah taqorrub ilalloh dengan kompensasi kelak adalah surga, kebahgiaan abadi…
yup itu adalah hak manusia yang berani menukar dengan secuil kehidupan dunia..
.

Haq
(kebenaran) juga yang harus diyakini bahwa itu adalah sesuatu yang mesti di
imani.

Tidak
begitu jauh fitrawi ini bagi manusia secara personal juga merupakan kebutuhan.
Di dunia asa dan cita , manjadi penunjang dalam menikmati hidup bagai hangatnya
minuman yang dihidangkan jika hidup di analogikan sebagi sekedar mampir minum..

Ditambah lagi
tergantung dengan apakita meneguk minuman dan jenis minuman apa yang kita
teguk. Mau minum jamu atau soft drink? Jamu.. kalo jamu terus yang dimunum
ya..bagus sih.. namun sisi manusiawi kita yang ingin menikmati dunia terkadang
menginginkan hal lain..ya begitulah warna dari kehidupan….

Dari sisi lain jiwa dan psikologis manusia ketika kita
menerima suatu masalah yang pelik bagi kita pribadi.. kita sering kali
menanamkan dalam hati keinginann untuk segera terlepasa tanpa ingin melihat
kembali masalah itu. Jika perasaan
berat dan kalut semakin timbul dalam menghadapi maslaah , kita merasa hanya
kita seorang yang memiliki masalh di dunia ini. Perasaan sebagai orang paling
terzolimi di dunia semakin terasa mencapkehidupan kita. Ada perasaan akan
ketidak adilan hidup.yang sesungguhnya jika diambil hikmah merupakan cobaan
atau mungkin siksa (kemabali kepada personal dalam menyikapinya
danmerenerimanya) Namun sungguh di balik itu ada sisi lainyang semestinya
disikapi secara dewasa…

Solusi dari semua itu hanya ….. penyikapan dan memahami ……….
bahwa cita/ asa adalah bagian dari warna kehidupan …. Dan yang pasti bahwa segala
ketetapan taqdir yang baik pasti berpihak kepada kita
(insan yang beriman dan
bertaqwa— insya Alloh)..

Husnudzon kepada Alloh Sang Pencipta …

Dan .. Kebenaran semakin ditampakkan..

June 15th, 2006 by mywishlife

Dan .. Kebenaran semakin ditampakkan..

 

Ikhwah sekalian … ana nyampaikan email yang ana dapat dari
ikhwah lain .. tentang azab kubur.. masya Alloh …. Ikhwah masih ingat dalam
Qur’an Surat Al-zal zalah.. ( dalam Juz 30 atau dalam Juz amma. Banyak yang
sudah Alloh sampaikan kepada kita namun dikarenakan banyak dosa-dosa yang
melumuri jiwa dan tubuh ini, Firman Alloh Yang Maha Agung itu pun tidak jarang
kita abaikan atau tidak dapat kita pegang.. Astaghfirulloh hal A’dzim… salah
satu Tanda2 kekuassaan Alloh itu pun ditampakkan dari sekian banyak yang sudah
terjadi..: Di bumi

indonesia

islam yang sering di jadikan bahan olokkan : entah dari perkataan para pengikut
dajjal / syaithon : diman Alqur’an diperolokkan menjadi kitab yang paling
porno.., dan sebagainya2 dan sebagainya, atau yang mengakibatkan murka Alloh
akan tertimpa bagi bangsa ini… , lain lagi:tentang anak durhakan di medan klo
gak salah yang berubah / dikutuk menjadi anjing, belum lagi anak durhaka wanita
yang dikutuk menjadi ika pari di daerah kalimantan ( masuk news metroTV)..
astaghfirulloh.., ini lah dari sekian banyak yang telah terjadi.. semoga ana
dan antum sekalian bisa mengambil ibroh/ pelajaran dari itu semua, dan soga
menjadi hamba yang sholeh dan termasuk kedalam golongan hamba Alloh yang pandai
bersyukur…

From: smudabaya99@yahoogroups.com [mailto:smudabaya99@yahoogroups.com] On Behalf Of Ayu Kusumadewi
Sent: Wednesday, May 24, 2006 11:30 AM
To: smudabaya99@yahoogroups.com
Subject: [smudabaya99] Allahu_Akbarr (3 jam stlh dikubur!!!)

 

 

 

 

   

 

—–Original Message—–
To: "ayu_tuban" <AKusumadewi@tubanpetro.co.id>
Date: Wed, 24 May 2006 11:25:34 +0700
Subject: Allahu_Akbarr (3 jam stlh dikubur!!!)

 

From: Seri Purnomoningrum
Sent: Wednesday, May 24, 2006 11:05 AM
To:
Binariswanto; Suhari Yono; Suherman; Heri Kusriyanto; Helmi; Lilik
Sugiharto; wiwik; Muhammad Hasni Multazam; Desy Ambarwati; Ayu
Kusumadewi; Nanik; Arif Wibisono; Arif Zaki Wahyudi; Achmad Riyanto;
Sigit Pranoto; Teguh Widodo; Martini; Triana; Iswandi Nawawi; Mochamad
Rifai
Cc: ‘juleesa_01@yahoo.com’; ‘violet_cck@yahoo.com’
Subject: FW: Allahu_Akbarr (3 jam stlh dikubur!!!)
Sign of Allah: Torture in a tomb Tanda kebesaran Allah / Siksa kubur

 


1
 
On this photo a 18-year old young man who died in one of hospitals of

Oman

. Di photo ini adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di

oman

. The corpse of the boy has been dug out from a tomb in 3 hours after his funeral under the
insisting of his father. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang di saksikan oleh ayahnya . The boy died in hospital and has been buried under the Islamic law and on the same day after obligatory ablution of the body.Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah di mandikan di makamkan secara islam di hari itu juga . However after funeral the father has doubted of the diagnosis of doctors and wanted to identify the true reason of his death. Tetapi
setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan
menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematianya.

 

2

 

 

Relatives and his friends shocked when they saw the corpse. Seluruh kerabat dan teman - temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat . He was completely different within 3 hours. Mayat tsb begitu berbeda dalam 3 jam. He turned grey as the very old man, dia berubah tampak ke abu - abuan seperti orang yang sudah tua .

 

 
    with traces of obvious tortures and the most severe beating, Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras and  with the broken bones of hands and legs, with the edges broken a, nd pressed into a body. dan dengan tulang - tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung ujungnya sehingga menekan kebadanya.

All His body and face were full of bruise. Seluruh badan dan mukanya memar. The open eyes-showed hopeless fear and pain .Matanya yang terbuka memerlihatkan ketakutan, kesakitan dan
keputusasaan
. The blood obviously attributes that the boy has been subjected to the most severe torture. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

 

3

 

 

Close
relatives of the dead man have addressed to Islamic scientists who have
unequivocally declared that it is available results of tomb torture
which the Allah ( s.w.t) and in the Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w)
have warned. Sebagai
penutup dari orang yang meninggal tersebut semuanya di tujukan kepada
Ilmu pengetahuan tentang Islam yang mana tidak dapat dipungkiri lagi
keterngananya bahwa siksa kubur itu benar adanya seperti yang di
peringatkan oleh ALLAH SWT dan Nabi Muhammad S.A.W.

The
shocked father of the boy has admitted that his son was spoilt, did not
do Solat, and had a carefree way of life, having involved in different
sins.

Each died person comes across tests in the tomb for
exception Shahids who died in Jihad on the way of Allah. This is first
terrible test which the person comes across before the Doomsday.

In Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w):

-
After the death the spirit of died person will return to a body then
two Angels will come, Munkar and Nakir, and will ask: "Who is your
Lord?" he will answer: "my Lord - Allah ". Then they will ask: "What is
your religion?" he will answer: "My religion - Islam". Then they will
ask him: "Who that person who has been sent to you?" he will answer:
"He is the Prophet of Allah ". Then they will ask him: "How do you
know?" He will answer: "I read the Book of Allah and trusted Him.

And then from heavens the voice will come: " My Slave has told the truth, lay it to bed from

Paradise


and open the Gate of Paradise " - then it will be full of pleasure and
he begins to feel paradise pleasure, and his tomb becomes spacious,
that eyes can reach.

The Prophet of Allah Muhammad (s.a.w)
said about the sinners. After the death the spirit of died person will
return to the body then two Angels will come and ask, "Who is your
Lord?" he will answer: "I do not know". Then they will ask: " Who that
person who has been sent to you?" he again will answer: I "do not know"
- and then from the sky the voice will come: "he told a lie, Put him
into a box from fire and open before it the Gate of a hell! "-then it
will be captured with heat of the hell, and his tomb becomes narrow and
the edges will be compressed.

In
Hadis it is also said, that Angels will severely beat the sinners
during interrogation in the tomb and this torture will be awful. It is
informed also, that our Messenger (s.a.w) supplicated to Allah to
protect Him from tortures of a tomb and asked other people to do so.

The
history of 18-year old young men is a sign for believers and this is
only next fairy tale for whom hearts are sealed by Allah. They look and
do not see, listen and do not hear?

This story was translated from other language into English. That s why I apologize in advance
for mistakes.

 

4

Lilypie 1st<br />
Birthday Pic